Safari Jumat di Api-Api, Bupati PPU Soroti Ketergantungan APBD dan Dorong Ekonomi Desa

PENAJAM PASER UTARA – Kegiatan Safari Jumat yang digelar di Masjid Nurul Huda, Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Jumat (17/4/2026), menjadi ajang bagi Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, tidak hanya menyampaikan program, tetapi juga merespons sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi daerah.

Di tengah suasana silaturahmi yang dirangkai dengan gotong royong, donor darah, dan pemeriksaan kesehatan gratis, Mudyat Noor menegaskan pentingnya Safari Jumat sebagai sarana komunikasi langsung dengan masyarakat.

Namun, di balik itu, ia juga membuka realitas tantangan fiskal yang tengah dihadapi Pemkab PPU.

Ia mengakui, kemampuan keuangan daerah saat ini masih sangat bergantung pada transfer dari pemerintah pusat. Kondisi ini diperparah dengan adanya efisiensi anggaran serta keterlambatan penyaluran dana bagi hasil yang berdampak langsung pada ruang gerak pembangunan daerah.

“Perlu dipahami, ini bukan soal pemerintah daerah berutang. Tetapi memang ada hak daerah yang belum dibayarkan,” tegasnya, menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan rapuhnya struktur APBD PPU yang belum sepenuhnya ditopang oleh pendapatan asli daerah (PAD). Di sisi lain, besarnya belanja pegawai masih menjadi beban rutin yang menyerap porsi signifikan anggaran, menyisakan ruang terbatas untuk program pembangunan dan pemberdayaan.

Dalam konteks itu, dorongan bupati agar desa mengoptimalkan dana desa untuk kegiatan produktif dinilai menjadi langkah strategis, meski bukan tanpa tantangan. Ia menyebutkan bahwa alokasi dana desa di PPU relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dari rata-rata nasional.

Namun demikian, efektivitas penggunaan dana desa tersebut masih menjadi pekerjaan rumah. Penguatan ekonomi masyarakat yang digaungkan pemerintah daerah membutuhkan perencanaan matang, pendampingan, serta pengawasan agar benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga.

“Kalau ekonomi masyarakat kuat, pembangunan akan mengikuti. Tapi itu butuh keseriusan semua pihak,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, sejumlah persoalan riil di lapangan mencuat. Kepala Desa Api-Api, Sarinah, menyampaikan keluhan terkait infrastruktur jalan perkebunan kelapa sawit yang hingga kini masih menjadi kendala utama bagi petani.

“Setelah panen, warga sering kesulitan mengeluarkan hasil kebun karena kondisi jalan. Ini sangat berdampak pada pendapatan mereka,” ungkapnya.

Masalah infrastruktur dasar tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara dorongan peningkatan ekonomi dengan kondisi pendukung di lapangan. Tanpa akses jalan yang memadai, potensi sektor unggulan seperti perkebunan sulit berkembang optimal.

Menanggapi hal itu, Mudyat Noor menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Namun, keterbatasan anggaran menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam merealisasikan berbagai kebutuhan tersebut.

Kegiatan Safari Jumat perdana di Desa Api-Api ini turut dihadiri jajaran pejabat daerah, di antaranya Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Nicko Herlambang, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Hadi, serta Asisten III Bidang Administrasi Umum Chairur Rozikin.

Safari Jumat yang diharapkan menjadi jembatan komunikasi pemerintah dan masyarakat, kini juga menjadi cermin tantangan pembangunan di daerah—mulai dari ketergantungan fiskal, optimalisasi dana desa, hingga kebutuhan infrastruktur yang masih mendesak.(ADV)

Loading

Komentar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Gerbang Nusantara Benuo Taka

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca